Mahacala Unhalu

Satu Untuk SEMUA Untuk satu

MENUJU KERAJAAN JIN MEKONGGA

 

Perjalanan

 

 

 28 Oktober 2001 Gunung Mekongga, gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara, tak banyak dikenal. Namun, menarik untuk didaki dan disimak cerita misterinya, terutama tentang kerajaan jinnya.

Sore awal Agustus lalu , rombongan kami tiba di desa Tinukari, kecamatan Ranteangin, kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Desa kecil itu terletak 300 kilometer sebelah barat daya kota Kendari.

Matahari sudah tenggelam dan sayup-sayup di kejauhan terdengar suara azan dari desa sebelah. Mobil sewaan yang kami tumpangi dari Kolaka berhenti di depan rumah Pak Desa. Bergegas, 18 orang anggota tim menurunkan ransel-ransel dan barang bawaan lainnya. Di sekitar kami, mulai berkumpul anak – anak kecil dan beberapa gadis remaja.

Ternyata, kehadiran rombongan yang hendak mendaki Gunung Mekongga sangat menarik perhatian mereka. Sementara itu kami memandangi barisan pegunungan Mekongga berdiri dengan megah. Indah, namun sunyi dan menyimpan misteri.

 

“Mari, silakan masuk!” ujar Bu Desa ramah menyambut rombongan. Kami pun bergegas menata barang dan kemudian mandi di sungai Aala Ranteangin yang jernih dan segar. Sebagai satu – satunya kaum hawa, saya dipersilakan membersihkan diri di kamar mandi Bu Tato yang tinggal di seberang Bu Desa. Airnya toh sama segar, langsung dari gunung.

Malam itu kami berbincang – bincang dengan Pak Desa yang ramah. Ia banyak bercerita mengenai Mekongga. Berbagai cerita tersebut semakin menambah semangat mendaki sampai ke puncak dan menggelar upacara 17 Agustus di sana.

Senin, 13 Agustus 2001. Seluruh anggota tim telah siap berangkat. Kami berdoa bersama di halaman rumah Bu Tato. Canda tawa terselip di sela – sela keheningan. Kami berpegangan tangan membentuk lingkaran. Kemudian berdoa bersama – sama, memohon kemudahan dan keselamatan.

Pendakian bersama kali ini diikuti 18 orang dari berbagai kelompok Pencinta Alam. Ada 4 orang dari Mahacala Unhalu, 1 orang dari Navernos FE Unhalu, 2 dari IKAMI – SS Kendari, 3 dari Pasific FISIP Unhalu, 2 dari Matepala Universitas Pattimura Ambon, dan saya sendiri bersama 5 teman dari KMPA “Ganesha” ITB. Berbagai latar belakang tadi disatukan oleh satu keinginan mendaki puncak Mekongga. Kami adalah satu tim, begitu tekadnya.

Jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 8.00 WITA. Kami memulai perjalanan meninggalkan rumah Bu Tato. Pak Desa ikut melepas sambil tak lupa menasihati kami untuk berhati – hati. Lambaian tangan penduduk desa hangat melepas kami.

Sehabis jalan aspal desa, kami memasuki jalan setapak di tengah kebun cokelat. Perjalanan belum mendapat hambatan berarti. Tak lama kami menemukan sungai cukup lebar, kurang lebih 10 meter, dengan arus cukup deras. Mau tak mau rombongan harus menyeberanginya. Aksi gulung celana tinggi – tinggi dilakukan dan air sungai sebatas paha itu kami lewati.

Lintasan selanjutnya mulai berbahaya. Kami terus menyusuri sungai melewati jalan setapak penebang rotan. Tak jarang kami harus melintas di tebing licin di sepanjang sungai. Teman saya, Billy, sempat merasakan jatuh bebas dari tebing. Untung cideranya tak serius dan dia masih bisa berjalan.

 

Bila dihitung – hitung, kami menyeberangi sungai sebanyak 4 kali. Menjelang tengah hari, kami tiba di pertemuan dua sungai, yaitu Aala Mosembo dan Aala Tinukari yang jernih dan menyegarkan. Aala artinya sungai dalam bahasa Tolaki.

Panas terik di ketinggian 100 m dpl itu tak muncul lagi. Kami mandi sejenak membasuh keringat yang membasahi tubuh. Perjalanan dihentikan untuk beristirahat makan siang dan ganti pakaian. Maklum, selepas ini kami mulai masuk hutan. Celana pendek dan sandal terpaksa masuk ransel.

Sejak saat ini anggota tim bertambah satu. Ada seekor anjing yang mengikuti kami. Cai, teman dari Unpati, memberinya nama Bram. Anjing kampung berwarna cokelat itu pun resmi masuk tim.

 

Sekitar pukul 12 siang, kami mulai bergerak kembali. Jalur semakin menggila. Tanjakan terus tanpa bonus. Perlahan – lahan kami menapaki jalan penebang rotan tersebut. Terik matahari makin memperlambat langkah. Vegetasi yang dominan adalah rotan dan tanaman perdu, khas hutan tropis.

Dua jam kemudian kami tiba di jalan HBI, yaitu perusahaan kayu yang pernah beroperasi sejak 1996. Karena protes masyarakat akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, perusahaan ini gulung tikar 1999 lalu. Kalau tidak, entah apa jadinya hutan indah ini.

Perjalanan mulai menyenangkan kembali. Canda tawa mulai terdengar. Kami menyusuri bekas – bekas jalan HBI yang sekarang sudah tertutup. Ilalang dan rotan menemani langkah kami bersama jejak – jejak kotoran sapi. Sapi siapa di tengah hutan begini? Saya teringat cerita Pak Ali, sesepuh desa Tinukari. Menurut beliau, dulu di zaman DI/TII, sapi – sapi dilepas ke hutan sebagai ransum makanan untuk gerombolan yang bersembunyi di hutan. Jadi, mungkin saja sapi – sapi itu keturunan sapi zaman perang dulu.

Pukul 4 sore kami tiba di ketinggian 490 m dpl. Di sana ada sebuah pondok kayu milik perotan. Kami memutuskan untuk membuat perkemahan. Kami menyebutnya sebagai camp 1. Ah, senang rasanya bisa melepas ransel yang telah disandang seharian. Apalagi kami disambut suguhan udang goreng dan nasi merah yang rasanya selangit. Enak betul di tengah hutan makan udang, gratis lagi.

Malam itu kami sempat berbincang – bincang. Evaluasi perjalanan hari pertama dan membahas rencana esok. Dari pondok terdengar lantunan lagu – lagu Bugis lewat radio. Sungguh kehidupan yang sederhana!

Keesokan harinya, seperti biasa kami bergegas sarapan dan mengepak bawaan. Gara – gara keasyikan mengobrol tadi malam, beberapa teman terlambat bangun. Perjalanan sempat mundur setengah jam. Kami kembali menyusuri jalan HBI. Ketinggian bertambah sedikit demi sedikit.

Jalan HBI yang kami lewati kebanyakan sudah longsor dan tertutup semak. Di ketinggian 1000 m, panorama mulai terbuka. Vegetasi tumbuhan kayu mulai bertambah, ada perdu, lumut, dan kantong semar. Di sebelah timur tampak jajaran perbukitan Mekongga yang menjari ke mana – mana.

Pada hari kedua, kami merencanakan mendaki hingga ketinggian 1.480 m dpl atau menuju camp 2. Tentu bukan sesuatu yang mudah. Jalurnya membosankan dan terus menanjak. Untunglah mitos yang kami dengar tidak terjadi. Menurut penduduk, kalau ada orang baru yang mendaki Mekongga pasti disambut hujan lebat. Tapi, siang itu kami tidak kehujanan. Padahal, cuaca mendung dan awan hitam mengikuti. Alam ternyata masih bersahabat.

Malam itu, sesudah evaluasi, kami putuskan untuk segera beristirahat. Menurut plot jalur di peta yang kami bawa, jalur besok akan semakin menggila. Kami merencanakan untuk tiba di camp 3 pada ketinggian 2.520 m dpl.

Perjalanan hari ketiga mulai bervariasi. Menjelang tengah hari, di ketinggian 1.900 m dpl, kami mulai meninggalkan jalan HBI. Di kejauhan tampak Osu Mosembo tertutup kabut. Osu dalam bahasa Tolaki berarti gunung.

Sejak saat ini pergerakan ditentukan sudut kompas dan titik ketinggian berdasarkan jalur yang direncanakan. Peta topografi skala 1 : 50.000 dari Bakosurtanal cukup membantu walau kadang menipu. Banyak sekali punggungan tidak terpetakan. Pegunungan Mekongga yang menjari ke mana – kemana itu bisa menyesatkan kalau kami salah memilihnya.

Jalur naik – turun punggungan memang melelahkan. Lumut dan cantigi mulai menutup jalan dan pohon perdu. Vegetasi khas daerah subalpine atau lahan dengan ketinggian lebih tinggi dari 2.000 m dpl.

Sekitar pukul 2 siang, kami memasuki kompleks bebatuan yang disebut Musero – sero di ketinggian 2.320 m dpl. Inilah tempat yang diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara.

Di tempat kami beristirahat terdapat tumpukan batuan menyerupai meriam. Moncongnya mengarah ke “Kabah” , sementara tebing batunya nun jauh di sebelah timur. Menjelang senja sering terdengar suara azan dari Kabah. Banyak cerita tentang lokasi ini.

Pukul setengah lima sore kami tiba di camp 3, berupa puncak punggungan seluas lapangan bulutangkis. Sepanjang perjalanan, kami memasang string line untuk petunjuk jalan sambil merapikan jalur pendakian. Ketinggian 2.520 m dpl, tinggal 100 meter lagi menuju puncak. Di kejauhan tampak puncak Mekongga yang berbentuk kubah batu menatap kami. Sungguh perjalanan panjang. Kami masih harus melewati beberapa punggungan tipis untuk tiba di sana.

Saat evaluasi, kami memutuskan untuk beristirahat sehari sebelum melakukan summit attack pada 17 Agustus. Keesokan harinya kami manfaatkan untuk beristirahat total. Ternyata serangan kutu babi selama pendakian cukup dahsyat. Kutu – kutu tersebut menyerang dengan ganas ke seluruh tubuh. Menimbulkan gatal – gatal yang membuat kita ingin menggaruknya terus. Seluruh tubuh penuh dengan bintik merah. Pertolongan pertamanya harus puas dengan bedak antiseptik. Lumayan juga kenang – kenangan Mekongga ini.

Pada Jumat, 17 Agustus 2001, kami menuju puncak. Pukul 8 pagi seperti biasa kami berdoa bersama sebelum memulai perjalanan. Pergerakan cukup cepat karena kami hanya membawa daypack . Pergerakan masih berdasarkan sudut kompas dan titik ketinggian.

Di sini terbukti bahwa Mekongga memang indah. Cantigi dan lumut yang hijau menyejukkan pandangan. Di kejauhan puncak – puncak batu gamping memanggil – manggil untuk menuju ke arahnya. Kami terus berjalan berpindah – pindah punggungan. Mendekati puncak terdengar gonggongan Bram. Ternyata ia berpapasan dengan anoa.

Saya sempat melihat bayangan hitam berlari kencang ke bawah. Semua berebut ingin melihatnya. Memang sejak ketinggian 2.000 m dpl kami banyak menemukan jejak kotoran anoa, hewan endemik khas Sulawesi. Sesuatu yang aneh karena menurut literatur, anoa hanya bisa hidup di ketinggian 1.000 m, tapi ternyata di Mekongga, ia bisa sampai ke puncak.

Akhirnya pukul 11 siang seluruh tim tiba di puncak. Kami segera menghubungi pesawat – pesawat radio Kendari dan Ujung Pandang melalui pesawat HT. Puncak Mekongga merupakan kompleks bebatuan tajam yang luas. Untuk menuju puncak, kita harus memanjat tebing dengan batu lepas – lepas. Di puncak inilah kami melakukan pengibaran bendera Merah Putih, yang dilanjutkan dengan upacara dan doa bersama. Doa penuh syukur dan harapan untuk bangsa ini.

Selepas makan siang, kami kembali turun ke camp 3, mengikuti string line yang kami buat sewaktu naik. Tapi, ada juga beberapa teman yang tersesat. Untung kami dapat kembali ke camp sebelum gelap.

Dua hari berikutnya kami tiba kembali di desa Tinukari. Kami disambut Pak Desa dan Bu Desa dengan senyuman ramah. Malamnya kami makan opor ayam buatan Bu Desa. Beliau sengaja memotong 5 ekor ayam untuk menyambut kami. Tuntas sudah perjalanan kali ini. ms hendrawati

 

 

Juli 12, 2008 Ditulis oleh mahacalaunhalu | Terkini | | & Komentar

Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) Panjat Tebing – Kendari 1996

Berikut tulisan mengenai TWKM Kendari oleh MAHACALA UNHALU di Kutip Oleh Administrator

Penulis adalah Peserta TWKM 1996 Divisi Panjat Tebing Dari Mapala UI

 

Kendari, Raha, Buton

Saya tiba di sekretariat panitia (kampus lama Universitas Haluoleo Kendari) hari Senin 14 Oktober pukul 14.05 WITA, terlambat sekitar dua jam dari keberangkatan peserta Kenal Medan Tebing menuju lokasi. Berarti, saya terpaksa harus menyusul rombongan. Dan ini baru bisa dilakukan keesokan harinya karena kapal yang menuju ke Bau Bau berangkat pukul satu siang setiap harinya. Ada lima orang termasuk saya yang berangkat menyusul. Masing-masing seorang peserta dari Institut Teknologi Indonesia, dua orang peserta peninjau dari Aceh dan seorang panitia.

Di pelabuhan Kendari, kami dilepas panitia yang jumlahnya justru lebih banyak dari yang berangkat : hampir tiga kali lipat ! Sejak pertama menginjakkan kaki di sekretariat panitia, saya memang melihat sikap total tuan rumah dalam melayani peserta. Seringkali membuat risih karena terkesan agak berlebihan. Ransel, misalnya, tak boleh saya gendong sendiri. Seperti tamu besar saja.
Tepat pukul satu siang (Selasa, 15 Oktober), kapal bertolak dari dermaga Kendari. MV Andhika Express dengan jet foil-nya biasa disebut kapal cepat karena ada juga kapal kayu yang melayani line Kendari-Raha-Bau Bau tapi baru besok siangnya tiba. Itu belum termasuk muntah-muntah sampai pucat karena mabuk laut. Dengan kapal cepat, Kendari-Bau Bau cuma makan waktu 4-5 jam dan dijamin goncangan ombak tak begitu terasa. Harga tiketnyapun beda jauh : dengan kapal cepat Rp. 27.500 sedang kapal kayu cuma 11.000 perak. MV Andhika Express yang dilengkapi karaoke, video dan bar berkecepatan 23 knot. Menurut Bob, seorang ABK, maksimalnya bisa 36 knot tapi tak pernah digunakan karena takut cepat rusak.

Pelayarannya sendiri terasa cukup menyenangkan. Sejak lepas dari teluk Kendari, di kiri-kanan banyak pulau besar-kecil yang indah dengan tebing-tebing karang langsung menjorok ke laut. Ombaknya relatif tidak besar, kecuali di satu tempat yang disebut cempedak (sekitar Selat Muna), merupakan sisa-sisa hempasan ombak Laut Banda.

Setelah dua jam setengah, kapal singgah di pelabuhan Raha (Pulau Muna) selama beberapa menit. Pulau Muna terkenal kering kerontang. Saking keringnya, menurut cerita kalau orang Raha buang air (besar) dia hanya membawa segelas air untuk bersih-bersih. Pulau ini juga kaya tebing karst serta gua. Menurut anak-anak Mahacala Unhalu, yang pertama kali mengeksplorasi gua-gua di sana adalah alm. Norman Edwin. Tandatangan Norman masih tertera di buku tamu sebuah kelurahan di Raha.
Pukul 18.15 kapal merapat di pelabuhan Bau Bau. Kami disambut dua orang panitia dan langsung menuju rumah Sdr. Laode Yulardi, mantan ketua Mahacala yang sobat baiknya Cholik (M-432-UI). Setelah beristirahat, kami menuju desa Waborobo sekitar 4-5 km dari Bau Bau. Dengan colt, waktu tempuhnya sekitar 30 menit. Di desa yang masuk Kecamatan Betoambari Kabupaten Buton inilah terletak tebing La Zila yang jadi obyek Kenal Medan Tebing. Waborobo berada di atas bukit-bukit dengan jalan naik-turun dan berbatu-batu. Pembangunannya boleh dibilang masih tertinggal (desa ini masuk program Inpres Desa Tertinggal/IDT). Penduduknya yang 1627 jiwa menurut sensus tahun 1993 belum mengecap penerangan listrik. Mereka sebagian besar tinggal di rumah-rumah panggung amat sederhana diantara kebun-kebun jambu mente. Orang-orang ini setiap harinya mengkonsumsi air berkadar kapur tinggi. Bila menjerang air, kandungan kapur naik ke permukaan air saat mendidih. Selama di Waborobo, kami terpaksa juga menggunakan air macam itu meski dengan berat hati.

Base Camp La Zila

Meski datang sehari lebih lambat dari rombongan peserta lain, saya belum ketinggalan acara manjat. Hanya sedikit sial karena tak mengikuti acara penyambutan yang katanya cukup meriah. Tak kurang Bpk. Walikota dan perangkat Muspida lainnya hadir. Ada juga tarian penyambutan menurut adat Buton. Beberapa pria bersenjata golok menari bak perwira-perwira kerajaan Buton jaman dulu yang disebut alk firisi dan letunani. Tarian perang untuk menyambut tamu ini disebut Galangi.

Base camp kami bertempat di gedung kelurahan setempat yang atap-atap ruang pertemuannya sudah mau roboh. Tebing La Zila hanya berjarak kira-kira 200 meter dari situ. Jenis batuannya karst dan ada juga batu-batu karang yang tajam hingga jalan ke puncak bukit. Konon dulunya daerah ini terendam air laut dan hanya sekitar keraton Buton saja yang tidak terendam. Tebing La Zila tingginya berkisar antara 20-60 meter dengan lebar 200-250 meter. Baru satu-dua jalur sport/free climbing yang sudah dibuat di situ.

Ketika saya bergabung, kelompok-kelompok sudah terbentuk plus ketuanya (ada tiga kelompok). Mereka sudah orientasi tebing dan sempat menjajal jalur sport yang disiapkan panitia.
Saya masuk ke kelompok 1 bersama John Harly (Mapalaya Universitas Jayabaya Jakarta), Triono Okto (Matrapala Universitas Petra Surabaya) dan Haris (Mahacala Universitas Haluoleo). Ketika briefing, setiap kelompok akan membuat jalur (saya artikan sebagai jalur sport/free climbing) terserah mau pakai cara apa. Dari panjat bebas/free, artifisial atau top rope bolding. Hanya dalam pembagian tugas ditekankan agar leader pemanjatan selalu dirotasi agar dapat berbagi pengalaman.

Jakarta-Surabaya PP, rute panjat

Rabu, 16 Oktober kelompok kami memutuskan untuk mengambil sisi tebing di paling ujung kiri. Artinya kami mesti menyusuri jalan setapak lagi sekitar 10 menit dari sisi tebing yang dipilih kelompok 2 dan 3.
Pukul 09.45, John memasang sebuah chockfriend sebagai runner pertama. Beberapa meter diatasnya saya tambah sling pada lubang tembus sebagai runner kedua. Lalu giliran Okto, tapi tidak menambah ketinggian. Sementara terik matahari yang bagai iga kali lipat dari di Jakarta membuat kami agak malas. Dari pukul 11.30-13.30 kami hanya duduk santai, makan sambil menunggu supply air dari base camp. Sdr. Iman, PO Kenal Medan Tebing, juga ikut berbincang-bincang dan menanyakan kabar Indra (M-486-UI) yang dipujinya sebagai salah satu pemanjat terbaik pada TWKM VI tahun 1994 di Pontianak.
Ketika matahari agak condong, saya leading lagi mencapai teras. Diatasnya saya pasang sling pada lubang tembus sebagai runner ketiga, kira-kira 15 meter dari kaki tebing. Bergantian John dan Okto mencoba lagi tapi ketinggian tidak bertambah sampai pemanjatan kami hentikan. Sementara itu kelompok 2 dan 3 telah menyelesaikan masing-masing sebuah jalur. Keduanya saya coba panjat free sore harinya dan berhasil.

Malam, ketika briefing saya utarakan kemungkinan penggunaan bor pada jalur kelompok 1. Alasannya, jalur kami relatif lebih sukar dengan batuan keropos di atas runner 3. Lalu diatasnya lagi sedikit blank hingga teras dekat puncak yang direncanakan sebagai akhir lintasan. Hal ini berbeda dengan jalur kelompok 2 dan 3 yang banyak sekali lubang tembus. Hal lain saya usulkan agar jalur yang dibuat dipermanenkan saja pengamannya dengan bolt dan hanger agar bisa digunakan berlatih oleh pemanjat Kendari dan sekitarnya. Hitung-hitung sebagai peninggalan TWKM ’96. Sdr. Iman setuju dengan usul ini. Tidak ada masalah.

Di sini saya berpatokan bahwa pembuat jalur adalah mereka yang memilih bagian tebing, menentukan arah pemanjatan dan titik-titik pengaman. Tak harus dia sendiri yang memasang pengamannya dan tak harus pula orang pertama yang berhasil memanjat jalur itu onsight (Buletin FPTI No.013 Januari ’92).
Kamis, 17 Oktober. Kami buat anchor di atas tebing setelah memutar lewat jalan belakang. Lalu saya turun untuk ’membersihkan’ batuan keropos sekaligus mengebor untuk memasang dua hanger. Satu sedikit di bawah lubang tembus runner ketiga, satu lagi kira-kira tiga meter di atasnya. Okto melanjutkan dengan dua hanger. Satu sebagai akhir lintasan jalur, satu lagi di bawah-agak ke kanan runner ketiga. Haris juga saya minta memasang sebuah hanger untuk mengganti chockfriend di runner pertama. Jalur kami anggap selesai dengan 6 titik pengaman (lima hanger dan satu lubang tembus) sepanjang 22-23 meter dari kaki tebing. Saya usulkan nama ��?Jakarta-Surabaya PP��? yang akhirnya dipakai untuk nama jalur ini. Tingkat kesulitan (grade) saya perkirakan sedikit di bawah jalur Kambing-nya Ciampea. Maka ketika diminta membuat sket jalur sekaligus menentukan gradenya saya pakai perbandingan kasar sbb; Jika jalur Kambing disebut-sebut ber-grade 5.9 , saya patok saja Jakarta-Surabaya PP (JSPP) antara 5.8-5.8b. Saya tak berani memperkirakan lebih dari itu dengan perhitungan bahwa untuk memanjat jalur Kambing di masa BKP lalu saya mesti dengan bersusah payah. Mengenai penentuan grade ini saya katakan penentuan persisnya kita tidak mampu, mungkin mesti mengundang FPTI segala. Menurut Sdr. Iman, patokan menentukan grade memang abstrak dan sejauh ini sangat bergantung pada kemampuan si pemanjat.

Jumat, 18 Oktober. Hari ini kami mencoba jalur masing-masing kelompok. Pukul 09.30 hingga waktu shalat Jumat adalah saat mencoba JSPP. Dari sembilan peserta, empat berhasil memanjat dengan free atau top rope. Masing-masing M. Sawal (STIEM Ujungpandang), Rosa (Mapala Comodo Untan), Risdiyanto (YPUP Ujungpandang) dan saya. Kemudian jalur saya clean dengan sistem 3 tali. Jalur kelompok 2 dan 3 tidak sempat dicoba sore ini karena turun hujan deras.

Sabtu 19 Oktober, kami memanjat jalur-jalur kelompok 2 dan 3. Semuanya (kecuali sebuah jalur yang tidak dicoba karena waktu mepet), berhasil saya panjat.

Pukul 13.30 kami sudah meninggalkan desa Waborobo menuju Bau Bau. Kami sempat singgah untuk melihat-lihat keraton Buton beserta benteng pertahanannya yang bersejarah.

Ketika berbincang-bincang di mess RS Bersalin Bau-Bau yang jadi penginapan kami sebelum bertolak ke Kendari besoknya, ada diskusi agak serius antara saya, Sdr. Iman, Sdr. Sawal dan Sdr. Okto. Intinya berupa usulan agar di TWKM mendatang ada waktu khusus tukar-menukar info panjat tebing, berbagi pengalaman dan mungkin sedikit dialog kepencinta-alaman.

TWKM sebagai ajang berkumpul mahasiswa dengan embel-embel pencinta alam tentu perlu, setidaknya, berupaya menyelaraskan aktifitasnya di alam agar tidak membawa dampak merusak kelestariannya (meski dalam kegiatan panjat tebing rasanya tidak/belum dikenal istilah konservasi). Atau mungkin, seorang pemanjat dari klab pencinta alam mesti punya sedikit rasa tanggung jawab yang membedakannya dengan pemanjat yang ’independen’ atau hanya jadi penikmat. ***

Juli 12, 2008 Ditulis oleh mahacalaunhalu | Terkini | | No Comments Yet