Satu Untuk SEMUA Untuk satu

MENUJU KERAJAAN JIN MEKONGGA

 

Perjalanan

 

 

 28 Oktober 2001 Gunung Mekongga, gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara, tak banyak dikenal. Namun, menarik untuk didaki dan disimak cerita misterinya, terutama tentang kerajaan jinnya.

Sore awal Agustus lalu , rombongan kami tiba di desa Tinukari, kecamatan Ranteangin, kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Desa kecil itu terletak 300 kilometer sebelah barat daya kota Kendari.

Matahari sudah tenggelam dan sayup-sayup di kejauhan terdengar suara azan dari desa sebelah. Mobil sewaan yang kami tumpangi dari Kolaka berhenti di depan rumah Pak Desa. Bergegas, 18 orang anggota tim menurunkan ransel-ransel dan barang bawaan lainnya. Di sekitar kami, mulai berkumpul anak – anak kecil dan beberapa gadis remaja.

Ternyata, kehadiran rombongan yang hendak mendaki Gunung Mekongga sangat menarik perhatian mereka. Sementara itu kami memandangi barisan pegunungan Mekongga berdiri dengan megah. Indah, namun sunyi dan menyimpan misteri.

 

“Mari, silakan masuk!” ujar Bu Desa ramah menyambut rombongan. Kami pun bergegas menata barang dan kemudian mandi di sungai Aala Ranteangin yang jernih dan segar. Sebagai satu – satunya kaum hawa, saya dipersilakan membersihkan diri di kamar mandi Bu Tato yang tinggal di seberang Bu Desa. Airnya toh sama segar, langsung dari gunung.

Malam itu kami berbincang – bincang dengan Pak Desa yang ramah. Ia banyak bercerita mengenai Mekongga. Berbagai cerita tersebut semakin menambah semangat mendaki sampai ke puncak dan menggelar upacara 17 Agustus di sana.

Senin, 13 Agustus 2001. Seluruh anggota tim telah siap berangkat. Kami berdoa bersama di halaman rumah Bu Tato. Canda tawa terselip di sela – sela keheningan. Kami berpegangan tangan membentuk lingkaran. Kemudian berdoa bersama – sama, memohon kemudahan dan keselamatan.

Pendakian bersama kali ini diikuti 18 orang dari berbagai kelompok Pencinta Alam. Ada 4 orang dari Mahacala Unhalu, 1 orang dari Navernos FE Unhalu, 2 dari IKAMI – SS Kendari, 3 dari Pasific FISIP Unhalu, 2 dari Matepala Universitas Pattimura Ambon, dan saya sendiri bersama 5 teman dari KMPA “Ganesha” ITB. Berbagai latar belakang tadi disatukan oleh satu keinginan mendaki puncak Mekongga. Kami adalah satu tim, begitu tekadnya.

Jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 8.00 WITA. Kami memulai perjalanan meninggalkan rumah Bu Tato. Pak Desa ikut melepas sambil tak lupa menasihati kami untuk berhati – hati. Lambaian tangan penduduk desa hangat melepas kami.

Sehabis jalan aspal desa, kami memasuki jalan setapak di tengah kebun cokelat. Perjalanan belum mendapat hambatan berarti. Tak lama kami menemukan sungai cukup lebar, kurang lebih 10 meter, dengan arus cukup deras. Mau tak mau rombongan harus menyeberanginya. Aksi gulung celana tinggi – tinggi dilakukan dan air sungai sebatas paha itu kami lewati.

Lintasan selanjutnya mulai berbahaya. Kami terus menyusuri sungai melewati jalan setapak penebang rotan. Tak jarang kami harus melintas di tebing licin di sepanjang sungai. Teman saya, Billy, sempat merasakan jatuh bebas dari tebing. Untung cideranya tak serius dan dia masih bisa berjalan.

 

Bila dihitung – hitung, kami menyeberangi sungai sebanyak 4 kali. Menjelang tengah hari, kami tiba di pertemuan dua sungai, yaitu Aala Mosembo dan Aala Tinukari yang jernih dan menyegarkan. Aala artinya sungai dalam bahasa Tolaki.

Panas terik di ketinggian 100 m dpl itu tak muncul lagi. Kami mandi sejenak membasuh keringat yang membasahi tubuh. Perjalanan dihentikan untuk beristirahat makan siang dan ganti pakaian. Maklum, selepas ini kami mulai masuk hutan. Celana pendek dan sandal terpaksa masuk ransel.

Sejak saat ini anggota tim bertambah satu. Ada seekor anjing yang mengikuti kami. Cai, teman dari Unpati, memberinya nama Bram. Anjing kampung berwarna cokelat itu pun resmi masuk tim.

 

Sekitar pukul 12 siang, kami mulai bergerak kembali. Jalur semakin menggila. Tanjakan terus tanpa bonus. Perlahan – lahan kami menapaki jalan penebang rotan tersebut. Terik matahari makin memperlambat langkah. Vegetasi yang dominan adalah rotan dan tanaman perdu, khas hutan tropis.

Dua jam kemudian kami tiba di jalan HBI, yaitu perusahaan kayu yang pernah beroperasi sejak 1996. Karena protes masyarakat akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, perusahaan ini gulung tikar 1999 lalu. Kalau tidak, entah apa jadinya hutan indah ini.

Perjalanan mulai menyenangkan kembali. Canda tawa mulai terdengar. Kami menyusuri bekas – bekas jalan HBI yang sekarang sudah tertutup. Ilalang dan rotan menemani langkah kami bersama jejak – jejak kotoran sapi. Sapi siapa di tengah hutan begini? Saya teringat cerita Pak Ali, sesepuh desa Tinukari. Menurut beliau, dulu di zaman DI/TII, sapi – sapi dilepas ke hutan sebagai ransum makanan untuk gerombolan yang bersembunyi di hutan. Jadi, mungkin saja sapi – sapi itu keturunan sapi zaman perang dulu.

Pukul 4 sore kami tiba di ketinggian 490 m dpl. Di sana ada sebuah pondok kayu milik perotan. Kami memutuskan untuk membuat perkemahan. Kami menyebutnya sebagai camp 1. Ah, senang rasanya bisa melepas ransel yang telah disandang seharian. Apalagi kami disambut suguhan udang goreng dan nasi merah yang rasanya selangit. Enak betul di tengah hutan makan udang, gratis lagi.

Malam itu kami sempat berbincang – bincang. Evaluasi perjalanan hari pertama dan membahas rencana esok. Dari pondok terdengar lantunan lagu – lagu Bugis lewat radio. Sungguh kehidupan yang sederhana!

Keesokan harinya, seperti biasa kami bergegas sarapan dan mengepak bawaan. Gara – gara keasyikan mengobrol tadi malam, beberapa teman terlambat bangun. Perjalanan sempat mundur setengah jam. Kami kembali menyusuri jalan HBI. Ketinggian bertambah sedikit demi sedikit.

Jalan HBI yang kami lewati kebanyakan sudah longsor dan tertutup semak. Di ketinggian 1000 m, panorama mulai terbuka. Vegetasi tumbuhan kayu mulai bertambah, ada perdu, lumut, dan kantong semar. Di sebelah timur tampak jajaran perbukitan Mekongga yang menjari ke mana – mana.

Pada hari kedua, kami merencanakan mendaki hingga ketinggian 1.480 m dpl atau menuju camp 2. Tentu bukan sesuatu yang mudah. Jalurnya membosankan dan terus menanjak. Untunglah mitos yang kami dengar tidak terjadi. Menurut penduduk, kalau ada orang baru yang mendaki Mekongga pasti disambut hujan lebat. Tapi, siang itu kami tidak kehujanan. Padahal, cuaca mendung dan awan hitam mengikuti. Alam ternyata masih bersahabat.

Malam itu, sesudah evaluasi, kami putuskan untuk segera beristirahat. Menurut plot jalur di peta yang kami bawa, jalur besok akan semakin menggila. Kami merencanakan untuk tiba di camp 3 pada ketinggian 2.520 m dpl.

Perjalanan hari ketiga mulai bervariasi. Menjelang tengah hari, di ketinggian 1.900 m dpl, kami mulai meninggalkan jalan HBI. Di kejauhan tampak Osu Mosembo tertutup kabut. Osu dalam bahasa Tolaki berarti gunung.

Sejak saat ini pergerakan ditentukan sudut kompas dan titik ketinggian berdasarkan jalur yang direncanakan. Peta topografi skala 1 : 50.000 dari Bakosurtanal cukup membantu walau kadang menipu. Banyak sekali punggungan tidak terpetakan. Pegunungan Mekongga yang menjari ke mana – kemana itu bisa menyesatkan kalau kami salah memilihnya.

Jalur naik – turun punggungan memang melelahkan. Lumut dan cantigi mulai menutup jalan dan pohon perdu. Vegetasi khas daerah subalpine atau lahan dengan ketinggian lebih tinggi dari 2.000 m dpl.

Sekitar pukul 2 siang, kami memasuki kompleks bebatuan yang disebut Musero – sero di ketinggian 2.320 m dpl. Inilah tempat yang diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara.

Di tempat kami beristirahat terdapat tumpukan batuan menyerupai meriam. Moncongnya mengarah ke “Kabah” , sementara tebing batunya nun jauh di sebelah timur. Menjelang senja sering terdengar suara azan dari Kabah. Banyak cerita tentang lokasi ini.

Pukul setengah lima sore kami tiba di camp 3, berupa puncak punggungan seluas lapangan bulutangkis. Sepanjang perjalanan, kami memasang string line untuk petunjuk jalan sambil merapikan jalur pendakian. Ketinggian 2.520 m dpl, tinggal 100 meter lagi menuju puncak. Di kejauhan tampak puncak Mekongga yang berbentuk kubah batu menatap kami. Sungguh perjalanan panjang. Kami masih harus melewati beberapa punggungan tipis untuk tiba di sana.

Saat evaluasi, kami memutuskan untuk beristirahat sehari sebelum melakukan summit attack pada 17 Agustus. Keesokan harinya kami manfaatkan untuk beristirahat total. Ternyata serangan kutu babi selama pendakian cukup dahsyat. Kutu – kutu tersebut menyerang dengan ganas ke seluruh tubuh. Menimbulkan gatal – gatal yang membuat kita ingin menggaruknya terus. Seluruh tubuh penuh dengan bintik merah. Pertolongan pertamanya harus puas dengan bedak antiseptik. Lumayan juga kenang – kenangan Mekongga ini.

Pada Jumat, 17 Agustus 2001, kami menuju puncak. Pukul 8 pagi seperti biasa kami berdoa bersama sebelum memulai perjalanan. Pergerakan cukup cepat karena kami hanya membawa daypack . Pergerakan masih berdasarkan sudut kompas dan titik ketinggian.

Di sini terbukti bahwa Mekongga memang indah. Cantigi dan lumut yang hijau menyejukkan pandangan. Di kejauhan puncak – puncak batu gamping memanggil – manggil untuk menuju ke arahnya. Kami terus berjalan berpindah – pindah punggungan. Mendekati puncak terdengar gonggongan Bram. Ternyata ia berpapasan dengan anoa.

Saya sempat melihat bayangan hitam berlari kencang ke bawah. Semua berebut ingin melihatnya. Memang sejak ketinggian 2.000 m dpl kami banyak menemukan jejak kotoran anoa, hewan endemik khas Sulawesi. Sesuatu yang aneh karena menurut literatur, anoa hanya bisa hidup di ketinggian 1.000 m, tapi ternyata di Mekongga, ia bisa sampai ke puncak.

Akhirnya pukul 11 siang seluruh tim tiba di puncak. Kami segera menghubungi pesawat – pesawat radio Kendari dan Ujung Pandang melalui pesawat HT. Puncak Mekongga merupakan kompleks bebatuan tajam yang luas. Untuk menuju puncak, kita harus memanjat tebing dengan batu lepas – lepas. Di puncak inilah kami melakukan pengibaran bendera Merah Putih, yang dilanjutkan dengan upacara dan doa bersama. Doa penuh syukur dan harapan untuk bangsa ini.

Selepas makan siang, kami kembali turun ke camp 3, mengikuti string line yang kami buat sewaktu naik. Tapi, ada juga beberapa teman yang tersesat. Untung kami dapat kembali ke camp sebelum gelap.

Dua hari berikutnya kami tiba kembali di desa Tinukari. Kami disambut Pak Desa dan Bu Desa dengan senyuman ramah. Malamnya kami makan opor ayam buatan Bu Desa. Beliau sengaja memotong 5 ekor ayam untuk menyambut kami. Tuntas sudah perjalanan kali ini. ms hendrawati

 

 

About these ads

3 tanggapan

  1. ponaryo

    Asyik juga perjalanannya, Kapan2 aku akan menuju kerajaan jin itu…pingin coba

    Juli 12, 2008 pukul 6:32 am

  2. Nelly

    bagaimana wajah mekongga sekarang ya…
    terakhir kesana tahun 2005…
    kangen dengan karst nya..kangen sungainya..kangen kabut dan lumutnya…argh..kapan lagi kesana ya..

    November 2, 2009 pukul 9:40 am

  3. jamil

    asik ceritanya….
    Memang, puncak mekongga adalah puncah terindah di sulawesi tenggara…..
    Skrg d’sana terdapat 8 pos yg d’lalui.

    Mei 27, 2011 pukul 3:45 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.