Satu Untuk SEMUA Untuk satu

Terbaru

SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1431 H

Pengolahan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat

Air yang konsumsi oleh masyarakat Kota Kendari dan Kabupaten Konawe melalui PDAM adalah air yang mengalir dari sungai Konaweeha. Namun tidak pernah disadari bahwa masyarakat hulu sungai ini telah menjaganya secara turun temurun dengan mengabaikan kepentingan mereka terhadap peningkatan ekonominya.

    Gangguan keamanan hutan, yang dituding sebagai peran utama dalam proses eksploitsi ini antara lain: pencurian kayu untuk pertukangan, perencekan, penggarapan hutan secara liar, pengembalaan ternak dan kebakaran hutan. Padahal, negara kita dikenal sebagai negara paru-paru dunia. Ini tercetus dalam Kongres Kehutanan Sedunia VIII yang bertemakan “Forest for People” di Jakarta 1978. Belum lama ini, tertanggal 1 Desember 2007, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mengkampanyekan program “tanam sejuta pohon”. “Kalau hutan di daerah kami ini rusak, mau hidup lagi dengan apa kita,” ujar Masi (32).     Pemikiran yang seperti ini hampir tidak lagi ditemui dalam masyarakat kita sekarang. “Hidup kami disini sangat tergantung pada hutan, karena pekerjaan sehari-hari masyarakat disini adalah petani madu, memang tidak semuanya begitu, meski sebagian masyarakat disini adalah petani coklat dan pencari rotan. Tapi, sebagian besar kami disini adalah petani madu hutan” lanjutnya.
    Hal ini terjadi di sebuah perkampungan kecil di pedalaman sungai Konaweeha, tepatnya di desa uwesi kecamatan Uluiwoi, kabupaten Kolaka-Sultra. Uwesi adalah sebuah desa berjarak tempuh 8 jam dari Kota Kendari. Mayoritas 215 kepala keluarga Uwesi, hidup sebagai petani dan pekebun coklat, kemiri, kacang , merica, kopi, sagu, dan sayur-sayuran, rotan dan madu.
    Wilayah perkampungan Uwesi dikelilingi hutan dan gunung yang hijau dan belum terjamah para penjarah kayu. Berada dekat dari pinggir Sungai Konaweha. Mudah menyaksikan kabut memutih dan udara segar di pagi hari.
    Dalam peta yang dibuat YASCITA, sebelah Utara dibatasi dengan Pegunungan Tangkelemboke, Selatan Pegunungan Tamosi sementara sebelah timur, pegunungan Latoma dan sebelah barat pegunungan Mekongga.     Menurut data Dinas Kehutanan propinsi Sultra tahun 2007, di daerah ini terdapat tiga jenis hutan, yaitu Taman Hutan Rakyat (Tahura), Hutan Produksi dan Hutan Lindung. Hasil pantauan , beberapa waktu lalu, menunjukan kalau daerah ini masih memiliki hutan yang lebat, dengan potensi pengolahan madu yang higienis, dapat dipastikan bahwa daerah ini akan menjadi sasaran investor nantinya.
    Salah satu cara pengolahan madu yang unik dilakukan oleh masyarakat daerah ini adalah pengolahan madu hutan dengan sistem iris. Dibanding dengan pengolahan madu sistem peras, teknik pengolahan madu sistem iris dinilai sangat higienis, walaupun dengan kualitas madu yang sama. Tapi harga pasaran madu yang diolah dengan sistem iris jauh lebih mahal ketimbang yang diperas.
    Ketika daerah lain menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor hutan terutama produksi kayu, warga Desa uwesi secara turun temurun tetap bertahan sebagai petani pengelola hasil hutan non kayu terutama madu dan rotan. Tahun 2006, petani madu desa Uwesi telah berhasil memasarkan 60 ton madu dengan kualitas terbaik di Indonesia.
    Masih pada tahun yang sama, petani-petani madu tersebut, atas bantuan perkumpulan YASCITA-Kendari, mereka mulai menghimpun diri dalam Jaringan Madu Hutan Indonesia dan mendirikan koperasi yang bekerja sebagai perantara antara petani madu dengan dunia luar. Perkumpulan YASCITA telah mendampingi warga Alaha dalam melestarikan alamnya sejak tahun 2000. Pendampingan dalam penyadaran tentang pelestarian hutan, pendampingan penguatan ekonomi dan penguatan kapasitas kelompok.
    Menurut Nasrudin (Ketua KSU Uwesi bersinar), upaya pengolahan madu dengan sistem iris ini sudah dijalankan sejak tahun 2006 kemarin, sampai saat ini sudah terdapat 95 orang anggota koperasi yang tergabung dalam 3 kelompok petani madu. Dalam pertemuan antar anggota Jaringan Madu Hutan indonesia (JMHI) tahun 2006 kemarin, kelompok-kelompok petani madu di daerah ini telah mendapatkan pelatihan sebanyak 20 orang dari ICS.
    Dengan mempresentasekan hasil olahan madu kualitas terbaik seluruh dunia yang berkadar air 18%, sedangkan standar tingkat kadar air internasional maksimal 24%.  Hal ini tentu sangat membanggakan bagi kita sebagai anak bangsa telah mampu bersaing dengan negara penghasil madu nomor satu di dunia yaitu India.
    Namun sangat disayangkan, madu yang begitu berkualitas belum mempunyai prospek pasaran yang jelas. Hal ini sangat mengkhawatirkan berbagai pihak, termasuk pemerhati lingkungan. Sebagaimana dikatakan Amir Mahmud (Anggota YASCITA), saat ini masyarakat desa Uwesi belum mendapatkan sentuhan yang cukup baik dari pemerintah. Dikhawatirkan apabila kondisi ini tetap berlanjut, dimana hasil olahan madu dari masyarakat tidak terpasarkan dengan baik, maka dapat dipastikan masyarakat akan beralih profesi sebagai penebang pohon, ini akan terjadi ketika kondisi perekonomian masyarakat semakin terpuruk. Dilain sisi keinginan investor yang masuk untuk mengeksploitasi hasil hutan ini tidak dapat dibendung lagi.
    Aktivitas petani madu di daerah ini, secara tidak langsung memberikan kontribusi yang nyata untuk kelestarian hutan disekitarnya. Mereka memanen madu dengan tidak merusak ekosistem hutan. Hal ini karena ketergantungan masyarakat terhadap hutan masih sangat erat sekali

Tahura Murhum dalam Cengkraman Makelar Tanah

Pemandangan miris ketika memasuk kawasan tahura. Kita tak lagi menemukan hutan lebat apalagi bertemu satwa layaknya disebuah kawasan hutan lindung. Di radius satu kilo meter kerah zona inti tahura telah gundul.

Kayu-ayu besar kini berganti dengan tanaman jangka pendek. Sebagian pohon besar telah tumbang hingga ke akar-akarnya. Beberapa gubuk warga yang tersebar terpisah menghiasi bukit tahura.

Mereka membuka areal kebun rakyat dengan menanam sejumlah aneka tanaman jangka pendek seperti jagung, ubi kayu, palawija dan sebagian lagi tanaman jangka panjang seperti mangga, kakao, cengkeh da lada ada yang dianggap menjadi komoditi yang secara ekonomi laku dijual.

Anehnya, tak ada batas berapa banyak jumlah areal yang dibuka, dari informasi yang diperoleh setiap warga mengkavling dari 5 hektar hingga puluhan hektar. Tak elas pula dari mana legitimasi mereka membuka lahan. “Itu kemauan kami sendiri. Tak ada yang menyuruh kami,”Lahadi, salah satu warga yang membuka lahan di bukit Nipa-nipa.

Dari informasi yang diperoleh, pembukaan lahan ini tak lepas dari adanya permainan sejumlah oknum masyarakat yang memperjualbelikan tanah di kawasan tahura Turhum. Penjualan tanah ini iklaim sebagai tanah leluhur. Ini terjadi di tiga kawasan kelurahan masing-masing Kelurahan Gunung Jati, Kelurahan Mangga Dua dan Kelurahan kampung Salo.

“Saya sering didatangi orang-orang yang menawarkan sebidang tanah yang akan dijual. Katanya lokasinya berada di kawasan Tahura Murhum. Mereka menawarkan dengan harga bevariasi dan cukup,”kata Mardan, salah satu warga Kelurahan Kampung Salo.

Jual beli lahan di kawasan tahura murhum yang tida seharusnya diperjualbelikan ini bukanlah sebuah isu, bahkan penjualan tanah ini melibatkan keluarga pejabat. Sperti yangterjadi di kawasan tahura tepatnya di wilayah administrasi Kelurahan Watuwau Kota Kendari. Dimana warga bernama Yato menjual tanah yang diklaim milik leluhurnya seluas tiga hektar kepada Sahrin yag tak lain adik kandung gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi SH.

Harga tanah dibeli dibeli 150 juta rupiah tersebut kini dibuat villa. Disekelilngnya Sahrin membuat tembok pembatas tanah, mirip “tembok cina”. Tembok ini dipakai untk melindungi semua asset di villa tersebut.

Beberapa warga yang hendak menjangkau areal wisata di kawasan hutan tahura kini tak lagi bisa mengakses ke jalan yang selama ini dilalui. “Gara-gara tembok ini kami tak lagi bias melewati jalan ini,”kata Rahmat, seorang warga yang selama ini melewati jalan menuju air terjun Tahura.

Jual beli lahan ini juga tela lama ditengarai oleh pihak pemerintah, hanya upaya menindak tegas para pelak penjual tanah tak pernah jelas. Bahkan pemerintah terkesan acuh tak acuh dengan masalah tersebut. Padahal, dalam berbaga kesempatan pemerintah dalam hal ini dinas kehutanan maupun Bapadalda kerap “berteriak” jika kawasan tahura tak boleh dimiliki dan tidak dibenarkan diperjualbelikan.

“Yang jelas tidak dibenarkan warga bermukim di tahura Murhum, apalagi sampai memperjual belikan tanah di sana,”kata Drs Haris, Kepala Seksi Pengawas Hutan Dinas Kehutana Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pelarangan ini kata Haris jelas tertuang dalam beberapa aturan yang mengikat, diantaranya UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang kehutanan.

Kejelasan tentang tata cara kepemilikan lahan ini menjadi penting dan bila tak segera diterapkan bukan hal mustahl jika lahan tahura yang memiliki luasan 7720 Ha akan habis terjual. Tak hanya itu fungsi tahurasebagai salah satu daerah hutan penyangga Kota Kendari akan rusak dan pada gilirannya berubah menjadi bencana alam yang sewaktu-waktu menjadi ancaman bagi warga kota.

Bukti nyata adanya bencana banjir yang melanda pada Juni 2006 dan Februari 2007 lalu , dimana dampak yang ditimbulkannya cukup besar dituai warga di sekitar hilir sungai. Pada bencana itu terdapat setidaknya ada 14 rumah yang hanyut terbawa air dan banjir merusak sejumlah sarana pendidikan dan sarana ibadah milik warga di Kelurahan Kampung Salo dan Kelurahan Kadia. *Yos Hasrul – Kendari

 

Pendakianku Ke Gunung Gede Pangrango

 

Berikut adalah sebuah perjalanan yang sangat melelahkan beberapa waktu lalu

Aku masih ingat ketika itu yang ada dalam benaku, apakah aku masih mampu untuk melakukan perjalanan ini,  Ini adalah sebuah perjalanan yang kali terakhir hingga saat ini, kalau nggak salah aku mendaki 4 tahun silam pada suatu acara pertemuan Mahasiwa Pencinta Alam Se Indonesia atau paling singkat disebut dengan TWKM, Waktu itu lokasinya di Jogjakarta, tahulah gunung yang paling sering menjadi sasaran empuk adalah Gunung Merapi..

Sambil meminta pendapat salah seorang teman saya dari Mapala Unisaspala yang pada waktu itu lagi melakukan Pra pendidikan, aku sambil memikirkan Sungguh Aku Tak melakukan persiapan apapun. tanpa mempertimbangkan resiko apapun yang hanya bermodalkan NEKAD, akupun memutuskan untuk melakukan perjalanan ini..Yah Perjalanan Ke Gunung Gede Pangrango.

Gunung Gede Pangrango terletak di pulau Jawa, Provinsi Jawa Barat. Gunung Gede-Pangrango adalah satu-satunya gunung yang paling sering di daki di Indonesia, kurang lebih 50.000 pendaki per tahun, meskipun peraturan dibuat seketat mungkin, bisa jadi karena lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Bandung. Untuk mengembalikan habitatnya biasanya tiap bulan Agustus ditutup untuk pendaki juga antara bulan Desember hingga Maret. Untuk mengurangi kerusakan alam maka dibuatlah beberapa jalur pendakian, namun jalur yang populer adalah melalui pintu Cibodas dan Gn.Putri.

Untuk mengunjungi Taman Nasional Gn.Gede-Gn.Pangrango diberlakukan sistem booking, 3-30 hari sebelum pendakian harus booking dahulu. Pendaftaran pendaki hanya dilanyani di Wisma Cinta Alam kantor Balai Taman Nasional Gn. Gede-Pangrango ( Pos Cibodas) pada hari kerja (senen-jumat) pada jam kantor. Serta untuk Pos Gn. Putri dan Pos Salabintana sudah tidak melayani ijin pendakian, tapi hanya sebagai pos kontrol. Pada saat ini hanya Jalur pada Pos Cibodas dan Gn. Purtri yang paling sering dilalui oleh para pendaki, sedangkan untuk jalur Salabintana jarang dilewati karena sebagian jalur sudah tertutup. Saya beserta teman saya yang dari Mapala Unisaspala As Syafi’iyah mengambil rute cibodas yang paling sering di lalui.   Pemandangan pada jalur Pos Cibodas kita dapat menikmati keindahan satwa dan beberapa tempat menarik seperti Telaga Biru, air terjun Ciberem dan Air Panas.

Terutama sekali kita dapat menemukan aliran air sepanjang jalan hingga pos Kandang Badak, suatu pos persimpangan jalan antara Gunung Gede dan Pangrango. Cibodas atau Gunung Putri dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum jurusan Jakarta – Bandung. Turun di Cipanas atau pertigaan Cibodas, disambung dengan mobil angkutan kecil jurusan Cipanas – Cibodas, atau Cipanas – Gunung Putri. Selain dikenakan tiket masuk Taman dan Asuransi, pengunjung diwajibkan meninggalkan photocopy Tanda Pengenal dan menunjukkan Tanda pengenal asli.  Melalui Cibodas puncak Gunung Gede dapat ditempuh selama 10 jam  Dari jalur Cibodas, terdapat beberapa pos peristirahatan yang berupa bangunan beratap yang sangat bermanfaat untuk berteduh dan menghangatkan badan. Sebaiknya tidak mendirikan tenda di dalam pos karena mengganggu para pendaki lainnya yang ingin berteduh.

Sebelum pos Kandang Batu kita akan melewati suatu lereng curam yang sangat berbahaya, yang dialiri air panas, pendaki perlu ekstra hati-hati karena sempit dan licin namun banyak pendaki berhenti untuk menghangatkan badan. Sebaiknya tidak berhenti di sini sangat menggangu pendaki lainnya, selain itu sebaiknya menggunakan sepatu, panasnya air sangat terasa bila kita hanya menggunakan sandal.

Mandi di sungai di Pos Kandang Batu ini yang berair hangat sangat menyegarkan badan, menghilangkan capek dan kantuk. Membantu melancarkan aliran darah yang beku kedinginan. Jangan gunakan sabun, odol, shampoo, karena banyak pendaki mengambil air minum di sungai ini. Membuka tenda di Pos ini sangat mengganggu perjalanan pendaki lainnya.

Meninggalkan Pos Kandang Batu kita akan melewati sungai yang kadang airnya deras sehingga hati-hati dengan sendal yang dipakai. Mendekati Kandang Badak, kita akan mendengar suara deru air terjun yang cukup menarik dibawah jalur pendakian. Kita bisa memandang ke bawah menyaksikan air terjun tersebut, atau turun ke bawah untuk mandi bila air tidak terlalu dingin.

Bagi pendaki sebaiknya mengisi persediaan airnya di pos Kandang Badak, karena perjalanan berikutnya akan susah memperoleh air. Setelah kandang Badak perjalanan menuju puncak sangat menanjak dan melelahkan disamping itu udara sangat dingin sekali. Disini terdapat persimpangan jalan, untuk menuju puncak Gn.Gede ambil arah ke kiri, dan untuk menuju puncak Gn.Pangrango ambil arah kanan. Persiapan fisik, peralatan dan perbekalan harus diperhitungkan, sebaiknya beristirahat di pos ini dan memperhitungkan baik buruknya cuaca.

Di atas puncak gunung Gede dengan latar belakang gunung Pangrango. Puncak Gede sangat indah namun perlu hati-hati, kita dapat berdiri dilereng yang sangat curam, memandang ke kawah Gede yang mempesona, apalagi pemandangan pada saat matahari terbit. Dilereng-lereng puncak ditumbuhi bunga-bunga edelweis berwarna warni yang indah nan menawan.

Dari puncak Gede kita bisa kebawah menuju alun-alun SuryaKencana, dengan latar belakang gunung Gumuruh. Terdapat mata air yang jernih dan tempat yang sangat luas untuk mendirikan kemah.

Ketka sampaia dipuncak aku mendapat teman baru, mereka ada dalam dua kelompok yang pertama dari bandung dan kelompok kedua dari tim SAR Papua, sambil berpose ala artis kami langsung bergabung, yah pasti bagi anda sudah dapat membayangjkan berbagi keceriaan dan pengalaman.  Inilah saat saat terindah bagi para pendaki, ketika tiba di ketinggian.

Karunia yang diberikan Allah kepada kita tidak terbatas, saya masih bisa menikmati anugrah ini.. Ya Allah terimakasih atas nikmat yang telah kau berikan kepada kami, ternyata kami hanya sosok kecil di perhadapkan akan ciptaaanmu.  Setelah cukup lama dipuncak kenangan ini, maka kamipun sepakat untuk meninggalkan tempat tersebut. sesaat setelah berlahan meninggalkan puncak akupun menoleh kebelakang sambil berucap ” hemm..akhirnya…///?

 

SEBUAH PERENUNGAN……TANYA KENAPA..?

Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam atau apapun namanya, yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka (KAT). Pada dasarnya dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat berorganisasi dan kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya. Event-event atau ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke tempat-tempat asing yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu wajib penggiatnya. Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah ampuh para senior yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi cerita dengan juniornya.

 Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan, penelusuran dan pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke generasi berikutnya. Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan diri ini, kemudian menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya. Kepuasannya hanya dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi secara tertulis yang telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best sellers’ namun sayang jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding upaya dan tindakan
yang arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.

 Sekian banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya sebagai pencinta alam ternyata berjalan beriringan dengan tingginya angka kerusakan lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur pengrusakan alam bisa jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu sendiri.

Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta alam itu selalu hura-hura, kerjaannya naik gunung terus, kemana-mana selalu bawa ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan dewasa ini, rasanya stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih kepada fakta.
Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak bisa merubah image miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode, membanjirnya produk-produk outdoor di pasaran membuat atribut-atribut pencinta alam bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi celana lapangan hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi ikat kepala anak- anak gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang dipakai untuk hiasan tas. Yang mirisnya, buat mereka yang memang berlabel pencinta atau penggiat alam pun ternyata ikut terlibas dengan trend mode. Sulit dibedakan mana yang memang anak pencinta alam atau bukan secara tampilannya. Yang bawa ransel belum tentu anak pencinta alam dan bahkan yang bisa panjat tebit pun tidak mesti harus masuk organisasi pencinta alam terlebih dahulu.

 Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah petualangan, tapi kita coba berani melihat ini secara proporsional dan jujur. Sudah sejauh manakah peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa yang telah kita bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau dibongkar, secara konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam susunan program kerja yang telah disusun dalam sebuah organisasi pencinta atau penggiat alam yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara aktivitas petualangan dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan. Sudahkah ada keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan sejujur mungkin bukan jawaban benar.

 Lalu apa yang membedakannya? , hanya sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sejatinya, pencinta alam bukan diukur secara penampilan, tapi lebih kepada
nilai, jiwa, sikap, solidaritas, pandangan dan tindakan mereka terhadap penyelamatan lingkungan atau alam. Selain aktif dalam kegiatan alam bebas, mereka juga peduli terhadap perlindungan dan pelestarian dariwadah bermainnya.

Lalu yang menjadi tanda tanya besar sekarang adalah, apakah sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang melekat pada anak pencinta alam itu masih ada? Ataukah sudah tergerus dan kemudian sama dengan mereka yang jelas-jelas bukan berlabel pencinta alam?. Pertanyaan serius ini memang tidak mudah dijawab. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa
pada umumnya kita memang lebih terlena pada romantisme petualangan.
Aktivitas-aktivitas kampanye lingkungan, demo-demo atau peringatan hari bumi atau lingkungan tak lebih menjadi sebuah seremonial belaka.
Belum dibarengi dengan pen-darah dagingan nilai-nilai lingkungan dalam jiwa seorang pencinta alam.
Implikasi dari semua ini akhirnya, makin mengukuhkan image miring yang sudah dari dahulu lahir. Tanpa disadari kita sendiri yang ikut melemahkan ‘positioning’ pencinta alam itu sendiri. Ada analogi sederhana yang mungkin dapat menggambarkan kondisional pencinta
alam saat ini. Kita akan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari kita yaitu, sebagaimana kita ketahui dan dimanapun kita bertanya yang namanya “Gudang Garam” atau “Djarum (jarum)” pasti akan dijawab ‘Rokok’. Orang dewasa sampai kecil biasanya akan menjawab dengan jawaban yang sama bahwa Gudang Garam atau Djarum itu adalah salah satu nama merk rokok terkenal yang ada di negara kita. Padahal sesungguhnya makna semantik dari dua kata tadi adalah bahwa Gudang Garam itu adalah gudang atau tempat penyimpanan garam, dan jarum itu adalah alat untuk menjahit.
 Rasanya akan sedikit sekali yang mau mendefinisikan Gudang Garam atau Jarum tadi dengan definisi diatas. Sebab ini sudah menjadi hal yang biasa dan selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.
Terlepas dari kemampuan produsennya yang memang jago dalam mempublikasikannya, dua kata tadi hanya sebagai perumpamaan saja, untuk menunjukkan bahwa ada pergeseran makna sebenarnya dari sebuah kata Gudang Garam atau Djarum. Sekarang, istilah tadi kita gantikan dengan “Pencinta Alam” apakah kita akan mendefinisikan dan memaknai ini sesederhana seperti menjawab rokok, sebagaimana halnya ini sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari? Adakah pergeseran makna dari Pencinta Alam sebenarnya saat ini? atau jangan-jangan Pencinta Alam memang sudah sama dengan rokok, hanya sekali pakai. Hidupkan dan bakar
lalu menjadi abu.

Pembenahan kemudi ini, pada prinsipnya hanya pilihan bagi kita, toh tanggung jawab kita sebagai umat manusia sudah pasti dituntut kelak, tentang apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap alam. Hanya saja sekarang, tuntutan terhadap penyuaraan lingkungan dewasa ini sudah begitu mendesak. Kerusakan sudah terjadi dimana-mana, 97% permukaan bumi ini sudah dikuasai untuk memenuhi kebutuhan manusia, lalu apakah sisanya pun akan kita paksakan juga untuk memuaskannya? .
Sudah menjadi sangat penting bagi anak pencinta alam untuk mendiskusikan ini secara lebih intensif. Materi-materi yang berkaitan dengan lingkungan dalam sistem pendidikan dasar organisasi pencinta alam sudah tak wajar lagi kalau hanya menjadi materi pelengkap atau
tambahan.
 
Silabusnya menuntut keberimbangan antara olah raga alam bebas dan lingkungan. Dan kedepan, inilah yang akan menjadi salah satu pembeda antara organisasi pencinta alam dan organisasi lain.

Hobi naik gunung tidak mesti harus terhenti karena mau menyelamatkan lingkungan, sebab melindungi lingkungan tidak mesti harus ada event khusus, hari khusus atau jumlah orang yang banyak. Cukup dengan mengantongi sampah dalam baju atau celana kalau tidak ketemu tempat sampah rasanya sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
Rasa-rasanya sudah selayaknya, kemudi yang selama ini agak sedikit melenceng dari pemaknaan sebenarnya tentang pencinta alam harus dibenahi. Sebelum ini berlarut dan menjadi arah jalur atau kebiasaan bagi seorang pencinta alam. Dan orang yang sudah terlanjur atau berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi pencinta alam harus bisa
membedakan dirinya dengan mereka yang bukan anak organisasi
pencinta alam.

 Sudah saatnya anak-anak pencinta alam menjadi pembicara dalam seminar-seminar atau diskusi yang membahas tentang lingkungan atau alam. Mereka harus menjadi `opinion leader’ dalam isu-isu lingkungan, dan bukan pengekor isu. Bukan tidak mungkin artinya, anak pencinta alam bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika mengkritisi persoalan lingkungan dihadapan publik. Dengan kelengkapan data-data dari perjalanan (pendakian, mis) yang telah dilakukan dan kemampuan lapangan serta ruangan yang tangguh, rasanya tidak ada lagi yang akan memandang sebelah mata anak-anak pencinta alam.

Terakhir, memutar kemudi ini sekali lagi harus diawali dengan kejujuran dan komitmen yang kukuh. berangkatnya hanya dari sebuah pertanyaan sederhana “Sebagai anak Pencinta Alam, apa kontribusi kita terhadap alam??”
 
 

 

 

 

Pencinta Alam dalam Paradigma Lingkungan

Terkesan oleh satu rumor yang mempertanyakan dimana pecinta alam saat ini. Pertanyaan ini sekaligus menjawab teka-teki bahwa ternyata masih ada orang yang tahu tentang pecinta alam.

Berbicara pecinta alam bagi kita tidak lebih seperti berbicara masalah lingkungan yang semakin absurd tidak tahu ujungnya. kategori pencinta alam umumnya terdiri dari berbagai elemen masyarakat dari mahasiswa,pelajar sampai organisasi PA (pecinta alam) umum pun hadir menjamur dewasa ini.di mahasiswa terkenal dengan sebutan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di pelajar terkenal dengan nama Sispala (siswa pecinta alam).

Secara umum orang tahu pecinta alam, mereka adalah orang yang suka atau punya hobi naik gunung dengan rambut gondrong, pakaian, aksesoris yang khas menandakan seorang pecinta alam. Sayangnya opini yang menempel pada diri PA ini lebih menjurus pada konotasi yang negative, ini lebih karena sering terjadinya praktek-praktek vandalisme di gunung, tempat wanawisata bahkan dipuncak gunung sekalipun ada coretan-coretan iseng. Terlepas dari apakah ini perbuatan seorang pecinta alam atau hanya kebetulan orang yang iseng saja yang naik gunung membawa spidol atau cat semprot.

Karena sulit membedakan antara pecinta alam asli yang peduli alam dan lingkungannya atau hanya pecinta alam gadungan yang hanya menempelkan nama kerennya saja, anggapan pun semakin luas terhadap perilaku sosial yang tidak terpuji seperti membuat kegaduhan di tengah malam dengan teriak-teriak bahkan lebih kaget lagi adalah sering ditemukannya berbagai macam sampah sampai kondom sekalipun di Taman Wisata Kaliurang, ini siapa lagi kalau bukan orang yang sering main ke gunung.

Terlepas dari konotasi negative tadi, pecinta alam mempunyai satu posisi yang sangat penting perannya dalam membina generasi muda untuk kepedulian terhadap alam ini seperti bisa kita lihat kegiatan-kegiatan penghijauan di lereng Merapi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pecinta alam di Yogyakarta atau aksi bersih kali oleh beberapa pecinta alam di Bandung beberapa bulan. Ini menandakan adanya satu persepsi yang masih belum diketahui oleh kebanyakan orang tentang kegiatan pecinta alam yang tidak saja berkutat di acara mendaki gunung.

Namun dalam tataran politik lingkungan pecinta alam cenderung apolitis dalam tataran gerakan lingkungan secara keseluruhan pecinta alam belum memperlihatkan sebuah sinergi gerakan yang dinamis, sepertinya belum ada satu pemikiran taktis gerakan pecinta alam dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan. Lebih jauh lagi pada peran mahasiswa pecinta alam, masih sedikit aksi-aksi advokasi dari para mahasiswa pecinta alam untuk masalah lingkungan. Ini terkesan apatis untuk melakukan advokasi bagi korban pencemaran lingkungan atau penolakan untuk rencana pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan. Ambilah salah satu contohnya di Yogyakarta, ditengah maraknya isu pembangungan kawasan konservasi air dan hutan oleh Pemkot, Jalan Lintas Selatan yang melewati kawasan hutan yang masih alami, Taman Nasional Gunung Merapi, Safir Square , Plaza Book UGM, Pelabuhan ika di Pantai Glagah yang nyata-nyata tidak sesuai dengan Ketentuan kebijakan lingkungan mengenai Tata Ruang, AMDAL, UU No 23 taqhun 1997, Transparansi dan Akuntabilitas public. Mahasiwa pecinta alam atau kelompok pecinta alam lainnya terkesan acuh tak acuh tidak mau peduli mengkritisinya.

Dikutip dari satu catatan Gerlorfd Nelson senator Amerika tahun 1970 yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech of Illionis tahun 1990, ia mengatakan “ jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan-kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pecinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan, jika anda ingin mempunyai Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi yang akan datang, kita yakin anda dapat melakukannya“. Catatan ini yang menjadi dasar untuk bergerak dalam wacana lingkungan melawan kapitalisme global.
Kini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk membangun sebuah sinergi gerakan dari para pecinta alam baik itu mahasiswa pecinta alam, siswa pecinta alam ataupun kelompok – kelompok pecinta alam lainnya untuk masa depan lingkungan hidup karena masalah lingkungan adalah permasalahan bersama sehingga korelasi antara banyaknya pecinta alam dengan kelestarian alam ini dalam tanda positif bukan sebaliknya.
“Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap”

JII..JANGAN ANGGAP ENTENG..

 SEBUAH CATATAN…

 

Kegiatan pendakian merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. melakukan pendakian sangat memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima, karena kegiatan ini berbeda dengan kegiatan lainnya.

Mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota. Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri.

Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Masalahnya, sering kali para pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.

Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas memadai (karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung), dan sebagainya.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter, atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang. Selamat mendaki! Semoga musibah mendaki gunung menjadi pelajaran bagi para pendaki pemula.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.