Satu Untuk SEMUA Untuk satu

Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) Panjat Tebing – Kendari 1996

Berikut tulisan mengenai TWKM Kendari oleh MAHACALA UNHALU di Kutip Oleh Administrator

Penulis adalah Peserta TWKM 1996 Divisi Panjat Tebing Dari Mapala UI

 

Kendari, Raha, Buton

Saya tiba di sekretariat panitia (kampus lama Universitas Haluoleo Kendari) hari Senin 14 Oktober pukul 14.05 WITA, terlambat sekitar dua jam dari keberangkatan peserta Kenal Medan Tebing menuju lokasi. Berarti, saya terpaksa harus menyusul rombongan. Dan ini baru bisa dilakukan keesokan harinya karena kapal yang menuju ke Bau Bau berangkat pukul satu siang setiap harinya. Ada lima orang termasuk saya yang berangkat menyusul. Masing-masing seorang peserta dari Institut Teknologi Indonesia, dua orang peserta peninjau dari Aceh dan seorang panitia.

Di pelabuhan Kendari, kami dilepas panitia yang jumlahnya justru lebih banyak dari yang berangkat : hampir tiga kali lipat ! Sejak pertama menginjakkan kaki di sekretariat panitia, saya memang melihat sikap total tuan rumah dalam melayani peserta. Seringkali membuat risih karena terkesan agak berlebihan. Ransel, misalnya, tak boleh saya gendong sendiri. Seperti tamu besar saja.
Tepat pukul satu siang (Selasa, 15 Oktober), kapal bertolak dari dermaga Kendari. MV Andhika Express dengan jet foil-nya biasa disebut kapal cepat karena ada juga kapal kayu yang melayani line Kendari-Raha-Bau Bau tapi baru besok siangnya tiba. Itu belum termasuk muntah-muntah sampai pucat karena mabuk laut. Dengan kapal cepat, Kendari-Bau Bau cuma makan waktu 4-5 jam dan dijamin goncangan ombak tak begitu terasa. Harga tiketnyapun beda jauh : dengan kapal cepat Rp. 27.500 sedang kapal kayu cuma 11.000 perak. MV Andhika Express yang dilengkapi karaoke, video dan bar berkecepatan 23 knot. Menurut Bob, seorang ABK, maksimalnya bisa 36 knot tapi tak pernah digunakan karena takut cepat rusak.

Pelayarannya sendiri terasa cukup menyenangkan. Sejak lepas dari teluk Kendari, di kiri-kanan banyak pulau besar-kecil yang indah dengan tebing-tebing karang langsung menjorok ke laut. Ombaknya relatif tidak besar, kecuali di satu tempat yang disebut cempedak (sekitar Selat Muna), merupakan sisa-sisa hempasan ombak Laut Banda.

Setelah dua jam setengah, kapal singgah di pelabuhan Raha (Pulau Muna) selama beberapa menit. Pulau Muna terkenal kering kerontang. Saking keringnya, menurut cerita kalau orang Raha buang air (besar) dia hanya membawa segelas air untuk bersih-bersih. Pulau ini juga kaya tebing karst serta gua. Menurut anak-anak Mahacala Unhalu, yang pertama kali mengeksplorasi gua-gua di sana adalah alm. Norman Edwin. Tandatangan Norman masih tertera di buku tamu sebuah kelurahan di Raha.
Pukul 18.15 kapal merapat di pelabuhan Bau Bau. Kami disambut dua orang panitia dan langsung menuju rumah Sdr. Laode Yulardi, mantan ketua Mahacala yang sobat baiknya Cholik (M-432-UI). Setelah beristirahat, kami menuju desa Waborobo sekitar 4-5 km dari Bau Bau. Dengan colt, waktu tempuhnya sekitar 30 menit. Di desa yang masuk Kecamatan Betoambari Kabupaten Buton inilah terletak tebing La Zila yang jadi obyek Kenal Medan Tebing. Waborobo berada di atas bukit-bukit dengan jalan naik-turun dan berbatu-batu. Pembangunannya boleh dibilang masih tertinggal (desa ini masuk program Inpres Desa Tertinggal/IDT). Penduduknya yang 1627 jiwa menurut sensus tahun 1993 belum mengecap penerangan listrik. Mereka sebagian besar tinggal di rumah-rumah panggung amat sederhana diantara kebun-kebun jambu mente. Orang-orang ini setiap harinya mengkonsumsi air berkadar kapur tinggi. Bila menjerang air, kandungan kapur naik ke permukaan air saat mendidih. Selama di Waborobo, kami terpaksa juga menggunakan air macam itu meski dengan berat hati.

Base Camp La Zila

Meski datang sehari lebih lambat dari rombongan peserta lain, saya belum ketinggalan acara manjat. Hanya sedikit sial karena tak mengikuti acara penyambutan yang katanya cukup meriah. Tak kurang Bpk. Walikota dan perangkat Muspida lainnya hadir. Ada juga tarian penyambutan menurut adat Buton. Beberapa pria bersenjata golok menari bak perwira-perwira kerajaan Buton jaman dulu yang disebut alk firisi dan letunani. Tarian perang untuk menyambut tamu ini disebut Galangi.

Base camp kami bertempat di gedung kelurahan setempat yang atap-atap ruang pertemuannya sudah mau roboh. Tebing La Zila hanya berjarak kira-kira 200 meter dari situ. Jenis batuannya karst dan ada juga batu-batu karang yang tajam hingga jalan ke puncak bukit. Konon dulunya daerah ini terendam air laut dan hanya sekitar keraton Buton saja yang tidak terendam. Tebing La Zila tingginya berkisar antara 20-60 meter dengan lebar 200-250 meter. Baru satu-dua jalur sport/free climbing yang sudah dibuat di situ.

Ketika saya bergabung, kelompok-kelompok sudah terbentuk plus ketuanya (ada tiga kelompok). Mereka sudah orientasi tebing dan sempat menjajal jalur sport yang disiapkan panitia.
Saya masuk ke kelompok 1 bersama John Harly (Mapalaya Universitas Jayabaya Jakarta), Triono Okto (Matrapala Universitas Petra Surabaya) dan Haris (Mahacala Universitas Haluoleo). Ketika briefing, setiap kelompok akan membuat jalur (saya artikan sebagai jalur sport/free climbing) terserah mau pakai cara apa. Dari panjat bebas/free, artifisial atau top rope bolding. Hanya dalam pembagian tugas ditekankan agar leader pemanjatan selalu dirotasi agar dapat berbagi pengalaman.

Jakarta-Surabaya PP, rute panjat

Rabu, 16 Oktober kelompok kami memutuskan untuk mengambil sisi tebing di paling ujung kiri. Artinya kami mesti menyusuri jalan setapak lagi sekitar 10 menit dari sisi tebing yang dipilih kelompok 2 dan 3.
Pukul 09.45, John memasang sebuah chockfriend sebagai runner pertama. Beberapa meter diatasnya saya tambah sling pada lubang tembus sebagai runner kedua. Lalu giliran Okto, tapi tidak menambah ketinggian. Sementara terik matahari yang bagai iga kali lipat dari di Jakarta membuat kami agak malas. Dari pukul 11.30-13.30 kami hanya duduk santai, makan sambil menunggu supply air dari base camp. Sdr. Iman, PO Kenal Medan Tebing, juga ikut berbincang-bincang dan menanyakan kabar Indra (M-486-UI) yang dipujinya sebagai salah satu pemanjat terbaik pada TWKM VI tahun 1994 di Pontianak.
Ketika matahari agak condong, saya leading lagi mencapai teras. Diatasnya saya pasang sling pada lubang tembus sebagai runner ketiga, kira-kira 15 meter dari kaki tebing. Bergantian John dan Okto mencoba lagi tapi ketinggian tidak bertambah sampai pemanjatan kami hentikan. Sementara itu kelompok 2 dan 3 telah menyelesaikan masing-masing sebuah jalur. Keduanya saya coba panjat free sore harinya dan berhasil.

Malam, ketika briefing saya utarakan kemungkinan penggunaan bor pada jalur kelompok 1. Alasannya, jalur kami relatif lebih sukar dengan batuan keropos di atas runner 3. Lalu diatasnya lagi sedikit blank hingga teras dekat puncak yang direncanakan sebagai akhir lintasan. Hal ini berbeda dengan jalur kelompok 2 dan 3 yang banyak sekali lubang tembus. Hal lain saya usulkan agar jalur yang dibuat dipermanenkan saja pengamannya dengan bolt dan hanger agar bisa digunakan berlatih oleh pemanjat Kendari dan sekitarnya. Hitung-hitung sebagai peninggalan TWKM ’96. Sdr. Iman setuju dengan usul ini. Tidak ada masalah.

Di sini saya berpatokan bahwa pembuat jalur adalah mereka yang memilih bagian tebing, menentukan arah pemanjatan dan titik-titik pengaman. Tak harus dia sendiri yang memasang pengamannya dan tak harus pula orang pertama yang berhasil memanjat jalur itu onsight (Buletin FPTI No.013 Januari ’92).
Kamis, 17 Oktober. Kami buat anchor di atas tebing setelah memutar lewat jalan belakang. Lalu saya turun untuk ’membersihkan’ batuan keropos sekaligus mengebor untuk memasang dua hanger. Satu sedikit di bawah lubang tembus runner ketiga, satu lagi kira-kira tiga meter di atasnya. Okto melanjutkan dengan dua hanger. Satu sebagai akhir lintasan jalur, satu lagi di bawah-agak ke kanan runner ketiga. Haris juga saya minta memasang sebuah hanger untuk mengganti chockfriend di runner pertama. Jalur kami anggap selesai dengan 6 titik pengaman (lima hanger dan satu lubang tembus) sepanjang 22-23 meter dari kaki tebing. Saya usulkan nama ��?Jakarta-Surabaya PP��? yang akhirnya dipakai untuk nama jalur ini. Tingkat kesulitan (grade) saya perkirakan sedikit di bawah jalur Kambing-nya Ciampea. Maka ketika diminta membuat sket jalur sekaligus menentukan gradenya saya pakai perbandingan kasar sbb; Jika jalur Kambing disebut-sebut ber-grade 5.9 , saya patok saja Jakarta-Surabaya PP (JSPP) antara 5.8-5.8b. Saya tak berani memperkirakan lebih dari itu dengan perhitungan bahwa untuk memanjat jalur Kambing di masa BKP lalu saya mesti dengan bersusah payah. Mengenai penentuan grade ini saya katakan penentuan persisnya kita tidak mampu, mungkin mesti mengundang FPTI segala. Menurut Sdr. Iman, patokan menentukan grade memang abstrak dan sejauh ini sangat bergantung pada kemampuan si pemanjat.

Jumat, 18 Oktober. Hari ini kami mencoba jalur masing-masing kelompok. Pukul 09.30 hingga waktu shalat Jumat adalah saat mencoba JSPP. Dari sembilan peserta, empat berhasil memanjat dengan free atau top rope. Masing-masing M. Sawal (STIEM Ujungpandang), Rosa (Mapala Comodo Untan), Risdiyanto (YPUP Ujungpandang) dan saya. Kemudian jalur saya clean dengan sistem 3 tali. Jalur kelompok 2 dan 3 tidak sempat dicoba sore ini karena turun hujan deras.

Sabtu 19 Oktober, kami memanjat jalur-jalur kelompok 2 dan 3. Semuanya (kecuali sebuah jalur yang tidak dicoba karena waktu mepet), berhasil saya panjat.

Pukul 13.30 kami sudah meninggalkan desa Waborobo menuju Bau Bau. Kami sempat singgah untuk melihat-lihat keraton Buton beserta benteng pertahanannya yang bersejarah.

Ketika berbincang-bincang di mess RS Bersalin Bau-Bau yang jadi penginapan kami sebelum bertolak ke Kendari besoknya, ada diskusi agak serius antara saya, Sdr. Iman, Sdr. Sawal dan Sdr. Okto. Intinya berupa usulan agar di TWKM mendatang ada waktu khusus tukar-menukar info panjat tebing, berbagi pengalaman dan mungkin sedikit dialog kepencinta-alaman.

TWKM sebagai ajang berkumpul mahasiswa dengan embel-embel pencinta alam tentu perlu, setidaknya, berupaya menyelaraskan aktifitasnya di alam agar tidak membawa dampak merusak kelestariannya (meski dalam kegiatan panjat tebing rasanya tidak/belum dikenal istilah konservasi). Atau mungkin, seorang pemanjat dari klab pencinta alam mesti punya sedikit rasa tanggung jawab yang membedakannya dengan pemanjat yang ’independen’ atau hanya jadi penikmat. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s